1. Musuh hawanya sendiri.
2. Musuh syaithon.
3. Musuh tipu daya kehidupan dunia.
Jadi kita itu jangan sampai kliru cari musuh.
Musuh manusia yang pertama, hawanya sendiri.
Dalam hadis Nabi diterangkan :
QOOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA :
AFDLOLUL JIHAADI MAN JAAHADA NAFSAHU.
Bersabda Rosulullohi s.a.w:
Seutama-utamanya jihad (perang) adalah perang dengan nafsunya sendiri.
Ini adalah musuh didalam hatinya sendiri dan musuh ini
sangatlah sakti, sakti mondro guno, kendit limang kematang dewo, nggak
tedas tapak paluneng pande, sisane gurendo, landepe kikir. Bila kita
sholat, diapun ikut sholat, bila kita wiridan, diapun ikut wiridan tapi
didalam sholat dan wiridan itu dia mengajak kita ngelencer (keluar) dan
ramai terus.
Bila kita diberi sakit yang hanya beberapa hari saja, si hawa
langsung mengajak kita mengeluh. Yang diperlihatkan cuma sakitnya saja,
sedangkan sehatnya yang tahunan dilupakan. Jadi si hawa membujuk kita
untuk melupakan nikmat sehat dari Tuhan dan hanya mengingat-ingat
sakitnya walau hanya sakit sebentar, supaya mengeluh saja.
Musuh manusia yang kedua, syaithon.
Dalam Alqur-an diterangkan :
INNASY SYAITHOONA LAKUM ‘ADUWWUN
Sesungguhnya syaithon itu adalah musuh bagimu.
Perintah memusuhi syetan itu bukan sunah dan juga bukan wajib kifayah melainkan wajib ain atau fardlu ain. Dari kalimat fardlu munculah kalimat “perlu”.
Meskipun memusihi syetan itu wajib, tapi apakah kita pernah memusuhi syetan?
Dan bukankah kalau akan memusuhi syetan itu harus tahu syetan.
Masak mau memusuhi syetan tapi tidak tahu syetan, bagaimana bisa
memusuhi syetan, bila tidak tahu syetan. Makanya dikerjain terus oleh
syetan, karena tidak tahu syetan. Tidak bisa membedakan mana yang syetan
dan mana yang bukan syetan.
Syetan itu ada 2 bentuk, yaitu bentuk manusia (bentuk yang kasar) dan bentuk jin (bentuk yang halus).
MINAL JINNATI WANNAS
Dari golongan jin dan manusia.
Terhadap syetan yang berbentuk manusia, ini sangat sulit
diketahui, kadang yang kita ajak ngobrol dari sore sampai pagi yang kita
sangka teman kita, ternyata syetan. Karena syetan yang bentuk manusia
itu, pakainnya pakaian manusia, makanannya makanan manusia. Jadi ya ada
yang kopyahan, gundulan, ada yang rambutnya panjang, ada yang jubahan,
juga ada yang pintar ngaji, pintar dalil, pintar sholawatan dst. Makanya
sulit sekali untuk membedakannya.
Terhadap syetan yang bentuk jin, ini agak mudah
mengalahkannya, tapi terhadap syetan yang bentuk manusia, ini susah,
sebab meskipun dibacakan doa macam-macam, dia juga bisa, mau dibacakan
qulhu, dia biasa baca qulhu.
Ada juga pendapat yang lucu, yaitu yang mengatakan bahwa
untuk mengalahkan jin atau menakut-nakuti jin itu dengan telanjang,
sebab jin itu takut bila dikencingi. Kok ada jin takut dikencingi…..?.
Makanya dikitab-kitab feqih juga diterangkan : jangan kencing atau berak
di lobangnya kepiting. Kalau sampai kencing atau berak di lobangnya
kepiting dan kebetulan disitu ada jinnya, maka bisa ditarik dari bawah
nanti. Meskipun tidak ada jinnya, bila kencing dilobangnya kepiting,
bisa-bisa disupit oleh kepitingnya.
Adanya syetan itu manfaatnya besar sekali, yakni untuk
menjadi musuh. Ada syetan saja banyak yang enak-enakan, apalagi gak ada
syetan, pasti akan lebih malas lagi.
Musuh bagi manusia yang ketiga, tipu daya dunia.
Dalam Alqur-an, surat Luqman ayat 33 diterangkan :
FALAA TAGHURRONNAKUMUL HAYAATUD DUN-YA.
Maka janganlah kamu sampai terkena tipu daya dunia.
Nabi Muhammad dawuh :
QOOLA ROSUULULLOHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAMA :
ALLAILU WAN NAHAARU MATHIYYATAA NI, FARKABUUHUMAA BALAGHON ILAL AKHIROH.
Bersabda Rosulullohi s.a.w : Siang
dan malam itu kedua-duanya adalah kendaraan, maka naikilah 2 kendaraan
tersebut sampai kamu ke akherat.
Jadi kita itu diperintah untuk menaiki siang dan malam,
artinya kita itu diperintah untuk menaiki dunia, jangan sampai dunia
yang menaiki kita. Jika diumpamakan, lebih baik mana antara manusia yang
menunggangi kuda dengan manusia yang ditunggangi kuda?. Tentunya lebih
tepat jika manusianya yang menunggangi kuda, bukan kudanya yang
menunggangi manusia. Karena dunia itu memang dipersiapkan sebagai
kendaraan bagi manusia.
Kadang ada yang mengatakan : Orang tasawuf itu tidak suka dunia.
Yang bilang seperti ini adalah salah, karena dirinya itu juga bagian
dari dunia. Yang benar itu orang tasawuf tidak dinaiki dunia, melainkan
menaiki dunia. Biar punya 100 pabrik, tapi dirinya tidak dinaiki
pabriknya. Jadi seandainya kita itu menjadi orang kaya, boleh-boleh
saja, tidak dilarang, yang dilarang itu jika sampai dirinya ditunggangi
kekayaannya.
Bagi kita yang hidup didunia ini, yang benar tidaklah usah
mencari dunia, karena dunia ini sudah kita tempati. Masak terhadap
sesuatu yang sudah ditempati masih dicari. Bila masih mencari terhadap
apa yang ditempati berarti bingung. Ibaratnya sudah berada didalam
rumah, tapi masih mencari rumahnya.
Jadi bila di dunia tapi tidak
mau dunia itu salah dan bila di dunia tapi mencari dunia juga salah
(karena sudah ditempati kok dicari).
Terhadap dunia ini tugas kita hanya mengaturnya, menatanya,
yang disana dipindah kesini dan yang disini dipindah kesana, jadi muser
saja atau disebut dengan istilah towaf.
Demikian itu ketentuannya Alloh, seperti halnya dalam kitab “Al hikam” juga diterangkan demikian :
“Dunia itu ditundukkan untuk kamu dan kamu mengabdilah kepada Alloh”.
Oleh sebab itu bila ada manusia yang ditunggangi oleh dunia
atau mengabdi pada dunia itu salah. Yang benar, dunianya harus mengabdi
pada manusia. Memang sifatnya dunia itu menggoda supaya dikejar, tapi
kalau dikejar lari. Dan bila yang mengejar berhenti, dunia akan
melambai-lambaikan tangan, memanggil-manggil, namun bila dikejar lagi,
duniapun akan lari lagi. Sehingga banyak manusia yang jatuh bangun
dibuatnya.
0 comments:
Post a Comment